Sejarah GPIBT Jemaat Golgota Puse
Perjalanan panjang iman suku Lauje: dari pondok sederhana di perkemahan Baung, pendampingan Jemaat Getsemani Bambanong, hingga menjadi jemaat penuh / mandiri — bertumbuh dalam kesetiaan, pengorbanan, dan kebersamaan.
Pantai Timur → Baung
Pos Pel. Getsemani Bambanong
→ Jemaat Mandiri
Pemantapan & pembangunan
Bukan sekadar gedung — melainkan pertumbuhan komunitas iman
Sejarah Golgota Puse tidak hanya tentang gedung atau organisasi, melainkan pertumbuhan komunitas iman: dari perintis permukiman, hubungan kekeluargaan, kerinduan bersekutu, kehadiran pelayanan gereja, persekutuan umat, hingga jemaat mandiri. Pertumbuhan berjalan erat dengan kehidupan masyarakat, wilayah, sosial, dan iman — bermula dari suku Lauje Pantai Timur di Dusun Baung, berkembang ke Kampung Sigumbang, terintegrasi ke Pos Pelayanan Getsemani Bambanong, hingga penuh/mandiri.
🌱 Dusun Baung ±1960
Masyarakat Lauje menetap di daerah perkemahan Baung, Desa Puse. Membangun pondok sederhana, membuka lahan kelapa, cokelat, umbi-umbian, rica, tomat. Dari persinggahan menjadi kampung menetap — kekerabatan erat, tumbuh kerinduan beribadah bersama.
⛪ Ibadah tanpa gedung
Belum ada gedung tetap. Ibadah Minggu dan Natal berpindah-pindah: Baung, puskesmas, kantor polisi. Kesaksian: gereja bertumbuh bukan karena sarana, melainkan kerinduan bersekutu dan mendengar firman.
Baca ringkasan 14 babak sejarah →
Pendahuluan → I. Kehidupan Lauje di Puse → II. Pelayanan 1960-an (Luther Paleleng, Baung–Bangkir) → III. Penguatan persekutuan → IV. 26 Nov 1980 integrasi Getsemani Bambanong → V. Pindah ke Sigumbang + rumah ibadah sederhana → VI. Peran orang Kristen pendukung → VII. 2000-an Guru Injil → VIII. 2018 Vik. Leonardo Leleng (TUG), sidang Pergamus Kolondom → mandiri → IX. 2021–2026 Pdt. Jepson Makasambe → X. Kepemimpinan & tata kelola → XI. Sosial-kesehatan (Pemdes, Posyandu, Kecamatan) → XII. Sarana (gedung, pastori, MCK, musik, liturgi) → XIII. Sentralisasi (Sinode, Muspel Enam) → XIV. Makna historis → Penutup / warisan iman.
Enam dasawarsa penyertaan Tuhan
Setiap periode membentuk identitas, persekutuan, tata kelola, dan arah pelayanan hingga kini.
Dari Pantai Timur ke Dusun Baung
Migrasi, pondok sederhana, pertanian-perkebunan. Komunitas menetap, kekerabatan terbentuk, kerinduan persekutuan Kristen lahir.
Diutus: Bpk. Luther Paleleng
Dalam jangkauan GPIBT / Getsemani Bambanong. Komunikasi intensif → hubungan kekeluargaan dan iman. Menjangkau Bangkir (nakes, polisi/TNI, perantau). Ibadah di Baung, puskesmas, kantor polisi, termasuk Natal.
Pos Pelayanan Getsemani Bambanong
Tonggak fase awal: persekutuan memperoleh tempat jelas dalam struktur gerejawi. Penghubung perintisan → pelayanan terorganisasi. Buah sejak 1960-an.
Babak baru + rumah ibadah sederhana
Pindah dari Baung; kembangkan cokelat, kelapa, cengkeh; generasi baru bertumbuh; iman diwariskan. Rumah ibadah sederhana = simbol persekutuan dewasa. Didukung kunjungan dan bantuan orang Kristen yang peduli.
Kesinambungan pelayanan
Guru Injil dari Pantai Timur memperkuat ibadah dan persekutuan. Jembatan generasi perintis → generasi berikut. Perhatian Sinode GPIBT membesar → jalan TUG.
Vikaris Leonardo Leleng
Melayani sejak 2018 bersama BPH dan warga: menata organisasi, pelayanan, persekutuan. Dibawa ke persidangan — di Jemaat Pergamus Kolondom diputuskan menjadi jemaat penuh/mandiri.
Pdt. Jepson Makasambe
Sejak 2021, ditahbiskan, melayani hingga 2026:
- Organisasi: tugas, koordinasi, partisipasi — tertib & bertanggung jawab.
- Sosial-kesehatan: Pemdes, Posyandu & kader, Kecamatan.
- Sarana: gedung, pastori, kaki lima, MCK/WC, musik & liturgi.
- Sentralisasi: Sinode GPIBT, Muspel Enam, jemaat lain.
Berdiri di atas bahu para pendahulu
Yang dinikmati kini adalah hasil generasi sebelumnya — dari pondok Baung hingga jemaat mandiri.
Jembatan gereja–masyarakat Baung/Bangkir lewat komunikasi dan pendampingan.
Dari Pantai Timur; kesinambungan pembinaan iman.
Menata jemaat hingga mandiri di Sidang Pergamus Kolondom.
Pemantapan organisasi, diakonia, pembangunan, sentralisasi.
👨👩👧👦 Masyarakat Lauje — pelaku utama
Perintis Baung–Sigumbang: membuka lahan, membangun keluarga, mewariskan iman, swadaya rumah ibadah.
💛 Pendukung + pemerintah & sinode
Nakes, polisi/TNI Bangkir, simpatisan; kemitraan Pemdes, Posyandu, Kecamatan, Sinode GPIBT & Muspel Enam.
Dokumentasi dan sumber sejarah
Ganti kotak di bawah dengan foto asli (klik gambar di editor Odoo → Replace). Ukuran saran 1200×800px.
📥 Unduhan arsip
🗂️ Info arsip
• Foto per periode (Baung, Sigumbang, pembangunan).
• Garis waktu per periode.
• Sumber tulisan & kesaksian warga.
Admin: tambah tabel pengurus / lampiran lewat blok di bawah ini.
Dari warisan menjadi misi
Gereja bertumbuh melalui kesetiaan, pengorbanan, pelayanan tulus, kebersamaan, dan kepedulian.
Perkuat persekutuan lintas generasi
Jaga identitas pendahulu; tingkatkan ibadah dan pembinaan kategorial (bapak, perempuan, pemuda, remaja, anak).
Hadir sebagai berkat kampung
Lanjutkan kemitraan kesehatan-sosial bersama Posyandu, Pemdes, Kecamatan — kasih Kristus nyata.
Tata organisasi & sarana
Tertib-transparan (MJ, BPH, BPP); rawat gedung, pastori, musik & liturgi sebagai instrumen pelayanan.
Setia dalam tubuh Kristus
Perkuat sentralisasi: Sinode GPIBT, Muspel Enam, jemaat lain — saling menopang misi.
“Sejarah telah mencatat perjalanan yang ditempuh; tugas generasi kini melanjutkan dan mewariskan iman yang hidup.”
Dengan penyertaan Tuhan, Golgota Puse terus bertumbuh dalam iman, teguh dalam pengharapan, setia dalam kasih — menjadi berkat bagi warga, masyarakat, dan lingkungan. Soli Deo Gloria.
Sumber: “Sejarah Jemaat Golgota Puse” (arsip jemaat) • Tema Glassmorphism biru-emas • Foto placeholder wajib diganti dokumentasi asli.